Senin, 09 April 2012

makalah pip1 pengertian,jenis dan fungsi pendidikan


A.      Pengertian dan fungsi Lingkungan Pendidikan
Manusia memiliki sejumlah kemampuan yang dapat dikembangkan melalui pengalaman. Pengalaman itu terjadi karena interaksi menusia dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial manusia secara efisien dan efektif itulah yng disebut dengan pendidikan. Dan latar tempat berlangsungnya pendidikan itu disebut lingkungan pendidikan, khususnya pada tiga lingkungan utama pendidikan yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat (Umar Tirtaraharja et. al., 1990: 39–40). Seperti diketahui, lingkungan pendidikan pertama dan utama adalah keluarga. Makin bertambah usia seseorang, peranan lingkungan pendidikan lainnya (yakni sekolah dan masyarakat) semakin penting meskipun pengaruh lingkungan keluarga masih tetap berlanjut.
Berdasarkan perbedaan ciri-ciri penyelenggaraan pendidikan pada ketiga lingkungan pendidikan itu, maka ketiganya sering dibedakan sebagai pendidikan informal, pendidikan formal, dan pendidikan nonformal. Pendidikan yang terjadi dalam lingkungan keluarga berlangsung alamiah dan wajar serta disebut pendidikan informal. Sebaliknya, pendidikan di sekolah adalah pendidikan yang secara sengaja dirancang dan dilaksanakan dengan aturan-aturan yang ketat, seperti harus berjenjang dan berkesinambungan, sehingga disebut pendidikan formal. Sedangkan pendidikan di lingkungan masyarakat (misalnya kursus dan kelompok belajar) tidak dipersyarakan berjenjang dan berkesinambungan, serta dengan aturan-aturan yang lebih longgar sehingga disebut pendidikan nonformal.
Sisdiknas itu membedakan dua jalur pendidikan, yakni jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah. Jalur pendidikan sekolah adalah pendidikan yang diselenggarakan di sekolah melalui kegiatan belajar-mengajar yang berjenjang dan berkesinambungan. Mulai dari pendidikan prasekolah (taman kanak-kanak), pendidikan dasar (SD dan SLTP), pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Sedangkan jalur pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah melalui kegiatan belajar-mengajar yang harus berjenjang dan berkesinambungan, baik yang dilembagakan maupun tidak, yang meliputi pendidikan keluarga, pendidikan prasekolah (seperti kelompok bermain dan penitipan anak), kursus, kelompok belajar, dan sebagainya.
Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam berinteraksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya (fisik, sosial, dan budaya), utamanya berbagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat dicapai tujuan pendidikan yang optimal. Penataan lingkungan pendidikan itu terutama dimaksudkan agar proses pendidikan dapat berkembang efisien dan efektif. Seperti diketahui, proses pertumbuhan dan perkembangan manusia sebagai akibat interaksi dengan lingkungannya akan berlangsung secara alamiah dengan konsekuensi bahwa tumbuh kembang itu mungkin berlangsung lambat dan menyimpang dari tujuan pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan berbagai usaha sadar untuk mengatur dan mengendalikan lingkungan itu sedemikian rupa agar dapat diperoleh peluang pencapaian tujuan secara optimal, dan dalam waktu serta dengan daya/dana yang seminimal mungkin. Dengan demikian dan diharapkan mutu sumber daya manusia makin lama semakin meningkat. Hal itu hanya dapat diwujudkan apabila setiap lingkungan pendidikan tersebut dapat melaksanakan fungsinya sebagaimana mestinya.
Masyarakat akan dapat berfungsi dengan sebaik-baiknya jika setiap individu belajar berbagai hal, baik pola-pola tingkah laku umum maupun peranan yang berbeda-beda. Untuk itu proses pendidikan harus berfungsi untuk mengajarkan tingkah laku umum dan untuk menyeleksi/ mempersiapkan individu untuk peranan-peranan tertentu.
Sehubungan dengan fungsi yang kedua ini pendidikan bertugas untuk mengajarkan berbagai macam keterampilan dan keahlian. Meskipun pendidikan informal juga berperan melaksanakan kedua fungsi tersebut, tetapi sangat terbatas, khususnya dilaksanakan oleh masyarakat yang masih primitif.
Pada masyarakat yang sudah maju, fungsi yang kedua dari pendidukan itu hampir sepenuhnya diambil alih oleh lembaga pendidikan formal. Pendidikan formal berfungsi untuk mengajarkan pengetahuan umum dan pengetahuan-pengetahuan yang bersifat khusus dalam rangka mempersiapkan anak untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu.
Pelaksanaan pendidikan dilakukan melalui tiga kegiatan yakni membimbing, mengajar, dan/atau melatih (ayat 1 pasal 1 dari UU RI  No. 2/1989). Meskipun ketiga kegiatan itu pada hakikatnya tritunggal, namun dapat dibedakan aspek tujuan pokok dari ketiganya yakni:
1.         Membimbing, terutama berkaitan dengan pemantapan jati diri dan pribadi dari segi-segi perilaku umum (aspek pembudayaan).
2.         Mengajar, terutama berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan,dan
3.         Melatih, terutama berkaitan dengan keterampilan dan kemahiran (aspek teknologi).
Dalam paparan di atas, terjadi variasi penekanan ketiga kegiatan itu di dalam berbagai lingkungan pendidikan dari masa ke masa. Perlu ditegaskan bahwa sekecil apa pun namun ketiga aspek tujuan pokok pendidikan itu tetap akan tergarap dalam setiap lingkungan pendidikan. Sebaliknya, adalah tidak mungkin terjadi adanya harapan  yang itu hanya menjadi tugas dan tanggung jawab sekolah saja. Kualitas manusia, baik aspek kepribadian maupun penguasaan dasar-dasar ilmu pengetahuan, serta kemahiran dalam spesialisasi tertentu, merupakan hasil kerja ketiga lingkungan pendidikan itu.
Di masa depan, ketiga sisi tersebut semakin penting karena harus mampu menyesuaikan diri dengan era globalisasi dan kemajuan iptek dan dari segi lain, harus mampu memenangkan persaingan yang semakin ketat dan tampil sebagai yang unggul dalam bidang spesialisasinya. Karena itu peningkatan fungsi ketiga lingkungan pendidikan, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama–sama akan sangat penting dalam mewujudkan sumber daya manusia yang bermutu.


B.     Perbedaan Lingkungan Keluarga dan Lingkungan Sekolah
Supaya dapat diinsansi betapa eratnya hubungan antar kedua lingkkungan tersebut serta saling mempengaruhi atas pendidikan anak-anak, perlu kiranya hal itu kita selidiki lebih lanjut yaitu sebagai berikut:
1.         Perbedaan pertama ialah rumah atau lingkungan keluarga, yakni lingkungan pendidikan yang sewajarnya.
Sudah sewajarnya bahwa keluarga, terutama orang tua, memelihara dan mendidik anak-anaknya dengan rasa kasih sayang. Perasaan kewajiban dan tanggung jawab yang ada pada orang tua untuk mendidik anak-anakny timbul dengan sendirinya, secara alami, tidak karena dipaksa atau disuruh orang lain.
Sedangkan sekolah adalah buatan manusia. Sekolah didirikan oleh masyarakat atau negara untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga yang sudah tidak mampu lagi memberi bekal persiapan hidup bagi anak-anaknya.
Guru sebagai pendidik adalah lain dari orang tua. Orang tau menerima tugasnya sebagai pendidik dari tuhan atau karena kodratnya. Guru menerima tugas dan kekuasaan sebagai pendidik dari pemerintah atau negara.
2.         Perbedaan kedua ialah perbedaan suasana
Kehidupan dan pergaulan dalam lingkungan keluarga senantiasa diliputi oleh rasa kasih sayang diantara anggota-anggotanya. Di dalamnya terdapat saling mengerti, pesesamanya. rcaya mempercayai, bantu-membantu, dan ksih-mengasihi.
Sedangkan kehidupan dan pergaulan di sekolah sifatnya lebih lugas. Di sekolah harus ada ketertiban dan peraturan-peraturan tertentu yang harus dijalankan oleh murid dan guru. Pergaulan antara anak-anak sesamanya dan antara anak-anak dengan guru lebih bersifat zakelijk dan objektif dari pada pergaulan di dalam lingkungan keluarga yang lebih diliputi oleh suasana kasih sayang yang sejati. Maka dari itu, di sekolah anak-anak lebih tidak bebas, lebih terkekang oleh peraturan-peraturan dari pada di dalam lingkungan keluarganya.
3.         Perbedaan ketiga ialah perbedaan tanggung jawab
Telah dikatakan bahwa orang tua atau keluarga menerima tanggung jawab mendidik anak-anaknya dari tuhan atau karna kodratnya. Keluarga, yaitu orang tua, bertanggung jawab penuh atas pemeliharaan anak-anaknya sejak mereka di lahirkan, dan bertanggung jawab penuh atas pendidikan watak anak-anaknya. Bagaimana seharusnya anak-anak itu berbuat, bertingkah laku, berkata-kata, dan sebagainya, terutama bergantung kepada teladan dan pendidikan yang dilakukan oleh keluarganya.
Sedangkan sekolah (guru-guru) lebih merasa bertanggung jawab terhadap pendidikan intelek (menambah pengetahuan anak) serta pendidikan keterampilan (skills) yang berhubungan dengan kebutuhan anak itu untuk hidup di dalam masyarakat nanti, dan yang sesuai dengan tuntutan masyarakat pada waktu itu.
Jelaslah sekarang bagi kita bahwa sebenarnya tugas orang tua atau keluarga dan sekolah hampir bersamaan: keduanya melaksanakan pendidikan keseluruhan dari anak. Perbedaannya hanyalah yang satu lebih menitik beratkan kekpada salah satu segi pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya masing-masing.
4.         Kerjasama antara Keluarga dengan sekolah
Keluarga dan sekolah sama-sama mendidik anak-anak, baik jasmani maupun rohaninya, sama-sama melakukan pendidikan keseluruhan dari anak. Dengan adanya kerja sama itu orang tua akan dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman dari guru dalam hal mendidik anak-anaknya. Sebaliknya, para guru dapt pula memperoleh keterangan-keterangan dari orang tua tentang kehidupan dan sifat-sifat anak-anaknya.
Keterangan-keterangan orang tua itu sungguh besar gunanya bagi guru dalam memberikan pelajaran dan pendidikan terhadap murid-muridnya. Juga dari keterangan-keterangan orang tua murid, guru dapat mengetahui keadaan alam sekitar tempat mukrid-muridnya dibesarkan.
Cara-cara untuk mempererat hubungan dan kerjasama antara sekolah dan keluarga antara lain:
1.        Mengadakan pertemuan dengan orang tua pada hari penerimaan murid baru.
2.        Mengadakan surat menyurat antara sekolah dengan keluarga.
3.        Adanya daftar nilai atau rapor.
4.        Kunjungan guru ke rumah orang tua murid, atau sebaliknya kunjungan orang tua murid ke sekolah.
5.        Mengadakan perayaan, peserta sekolah atau pameran-pameran hasil karya murid-murid.
6.        Mendirikan perkumpulan orang tua murid dan guru (POMG).
5.         Lingkungan Pendidikan
 Lingkungan pendidikan pada hakikatnya merupakan sesuatu yang ada di luar individu, walaupun ada juga yang mengatakan bahwa ada lingkungan yang terdapat dalam individu. Lingkungan pendidikan meliputi:
1.        Lingkungan phisik (keadaan iklim, keadaan alam).
2.        Lingkungan budaya (bahasa,seni, ekonomi,politik, pandangan hidup, keagamaan dan lainnya).
3.        Lingkungan sosial/masyarakat (keluarga, kelompok bermain, organisasi).
Manusia sepanjang hidupnya selalu akan menerima pengaruh dari tiga lingkungan pendidikan yang utama yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat, dan ketiganya disebut tripusat pendidikan. Lingkungan pendidikan yang mula-mula tetapi terpenting adalah keluarga. Pada masyarakat yang masih sederhana, struktur sosial yang belum kompleks, cakrawala anak sebagian besar masih terbatas pada keluarga. Pada masyarakat tersebut keluarga mempunyai dua fungsi yaitu fungsi produksi dan fungsi konsumsi.
Tetapi pada masyarakat modern dimana industrialisasi semakin berkembang dan memerlukan spesialisasi, maka pendidikan yang semula menjadi tanggung jawab keluarga itu kini sebagian besar diambil alih oleh sekolah dan lembaga-lembaga sosial lainnya. Pada tingkat yang paling permulaan fungsi ibu sebagian sudah diambil alih oleh pendidikan prasekolah.
Pada tingkat spesialisasi yang rumit, pendidikan keterampilan sudah tidak berada pada ayah lagi sebab sudah diambil alih oleh sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Bahkan fungsi pembentukan watak dan sikap mental pada masyarakat modern berangsur-angsur diambil alih oleh sekolah dan organisasi sosial lainnya seperti perkumpulan pemuda dan pramuka, lembaga-lembaga keagamaan, media massa, dan sebagainya.
Meskipun keluarga kehilangan sejumlah fungsi yang semula menjadi tanggung jawabnya, namun keluarga masih tetap merupakan lembaga yang paling penting dalam proses sosialisasi anak, karena keluarga yang memberikan tuntutan dan contoh-contoh semenjak masa anak sampai dewasa dan berdiri sendiri. Adanya perubahan fungsi keluarga mempunyai pengaruh besar terhadap proses pendidikan pada umumnya, termasuk pendidikan formal. Dalam keluarga pada masyarakat yang belum maju, orang tua merupakan sumber pengetahuan dan keterampilan yang diwariskan atau diajarkan kepada anak-anaknya.
Dalam keluarga semacam ini orang tua memegang otoritas sepenuhnya. Sebaliknya, dalam masyarakat modern orang tua harus membagi otoritas dengan orang lain, terutama guru dan pemuka masyarakat, bukan dengan anak mereka sendiri yang memperoleh pengetahuan baru dari luar keluaraga.
Hubungan keluarga berubah dari hubungan yang bersifat otoritatif menjadi hubungan yang bersifat kolegial. Dalam keluarga ini lebih dapat ditumbuhkan perasaan aman, saling menyayangi, dan sifat dimokratis pada diri anak sebab keputusan yang diambil selalu dibicarakan bersama oleh seluruh anggota keluarga. Perubahan sifat hubungan guru-siswa serta di dukung oleh iklim keterbukaan yang demokratis dalam masyarakat. Dengan kata lain, terdapat saling pengaruh antar ketiga pusat pendidikan itu.

Ki Hajar Dewantara membedakan lingkungan pendidikan berdasarkan kelembagaannya, yaitu:
1.        Keluarga
Keluarga merupakan pengelompokan primer yang terdiri dari sejumlah kecil orang karena hubungan semenda dan sedarah. Keluarga itu dapat berbentuk keluarga inti ataupun keluarga yang diperluas.
Pada umumnya jenis kedualah yang banyak ditemui dalam masyarakat Indonesia. Meskipun ibu merupakan anggota keluarga yang mula-mula paling pengaruh terhadap tmbuh kembang anak. Di samping faktor iklim sosial itu, faktor-faktor lain dalam keluarga itu ikut pula mempengaruhi tumbuh kembangnya anak, seperti kebudayaan, tingkat kemakmuran, keadaan perumahannya, dan sebagainya. Dengan kata lain, tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh keseluruhan situasi dan komdisi keluarganya.
Lingkungan keluarga sungguh-sungguh merupakan pusat pendidikan yang penting dan menentukan, karena itu tugas pendidikan adalah mencari cara, membantu para ibu dalam tiap keluarga agar dapat mendidik anak-anaknya dengan optimal. Keluarga juga membina dan mengembangkan perasaan anak seperti hidup hemat, menghargai kebenaran, tenggana rasa, menolong orang lain, hidup damai, dan sebagainya. Lingkungan keluarga bukanya pusat penanam dasar pendidikan watak pribadi saja, tetapi pendidik sosial. Di dalam keluargalah tempat menanam dasar pembentukan watak anak-anak. Di samping hubungan antara ibu dan anak, komposisi keluarga juga mempunyai pengaruh terhadap perkembangan, utuamanya proses sosialisasi.
2.        Sekolah
Di antara tiga pusat pendidikan, sekolah merupakan sarana yang secara sengaja dirancang untuk melaksanakan pendidikan. Seperti telah dikemukakan bahwa karena kemajuan zaman, keluarga tidak mungkin lagi memenuhi seluruh kebutuhan dan aspirasi generasi muda terhadap iptek. Semakin maju suatu masyarakat semakin penting peranan sekolah dalam mempersiapkan generasi muda sebelum masuk dalam proses pembangunan masyarakat itu.
Sekolah harus diupayakan sedemikian rupa agar mencerminkan suatu masyarakat Indonesia di masa depan, sehingga peserta didik memperoleh peluang yang optimal dalam menyiapkan diri untuk melaksanakan perannya. Oleh karena itu, sekolah seharusnya menjadi pusat pendidikan untuk menyiapkan manusia Indonesia sebagai individu, warga masyarakat, warga negara, dan warga dunia di masa depan. Sekolah yang demikian yang diharapkan mampu melaksanakan fungsi pendidikan secara optimal, yakni mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia dalam rangaka mewujudkan tujuan nasional.
Sekolah sebagai pusat pendidikan adalah sekolah yang mencerminkan masyarakat yang maju karena pemanfaatan secara optimal ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi tetap berpijak pada ciri keindonesiaan. Dengan demikian, pendidikan di sekolah seyogianya secara seimbang dan serasi menjamah aspek pembudayaan peserta didik.
3.        Masyarakat
Kaitan antara masyarakat dan pendidikan dapat ditinjau dati tiga segi, yakni:
a.         Masyarakat sebagai penyelengara pendidikan, baik yang dilembagakan (jalur sekolah dan jalur luar sekolah) maupun yang tidak dilembagakan (jalur luar sekolah).
b.        Lembaga-lembaga kemasyarakatan dan/atau kelompok sosial di masyarakat, baik langsung maupun tak langsung, ikut mempunyai peran dan fungsi edukatif.
c.         Dalam masyarakat tersedi berbagai sumber belajar, baik yang dirancang (by design) maupun yang dimanfaatkan (utility). Perlu pula diingat bahwa amanusia dalam bekerja dan hidup sehari-hari akan selalu berupaya memperoleh manfaat dari pengalaman hidupnya itu untuk meningkatkan dirinya. Dengan kata lain, manusia berusaha mendidik dirinya sendiri dengan memanfaatkan dalam bekerja, bergaul, dan sebagainya.
Dari tiga hal tersebut di atas, yang kedua dan ketiga yang terutama menjadi kawasan dari kajian masyarakat sebagai pusat pendidikan. Namun perlu ditekankan bahwa tiga hal tersebut hanya dapat dibedakan, sedangkan dalam kenyataan sering sukar dipisahkan. Fungsi masyarakat sebagai pusat pendidikan sangat tergantung pada taraf perkembangan dari masyarakat itu beserta sumber-sumber belajar yang tersedia di dalamnya.
6.         Pengaruh Timbal Balik antara Tripusat Pendidikan Terhadap Perkembangan Peserta Didik
Perkembangan peserta didik, seperti juga tumbuh-kembang anak pada umumnya, dipengaruhi oleh berbagai faktor yakni hereditas, lingkungan proses perkembangan, dan anugerah. Khusus untuk faktor lingkungan, peranan tripusat pendidikan itulah yang paling menentukan, baik secara sendiri-sendiri ataupun secara bersama-sama.
Dikaitkan dengan tiga poros kegiatan utama pendidikan (membimbing, mengajar, dan melatih separti tersebut Ayat 1 Pasal 1 UU RI No. 2/1989), peranan ketiga tripusat pendidikan itiu bervariasi meskipun ketiganya melakukan tiga kegiatan pokok dalam pendidikan tersebut. Kaitan antara tripusat pendidikan dengan tiga kegiatan pendidikan untuk mewujudkan jati diri yang mantap, penguasaan pengetahuan, dan kemahiran keterampilan.
Setiap pusat pendidikan dapat berpeluang memberi kontribusi yang besar dalam kegiatan pendidikan, yakni:
1.        Pembimbingan dalam upaya pemantapan pribadi yang berbudaya.
2.        Pengajaran dalam upaya penguasaan pengetahuan.
3.        Pelatihan dalam upaya pemahiran keterampilan.
Kontribusi itu akan berada bukan hanya antarindividu, tetapi juga faktor pusat endidikan itu sendiri yang bervariasi di seluruh wilayah Nusantara. Namun kecenderungan umum, utamanya pada masyarakat modern, kontribusi keluarga pada aspek peguasaan pengetahuan dan pemahiran keterampilan makin mengecil dibandingkan dengan kontribusu sekolah dan masyarakat.
Di samping peningkatan kontribusi setiap pusat pendidikan terhadap perkembangan peserta didik, dipersyaratkan pula keserasian kontribusi itu, serta kerja sama yang erat dan harmonis antar tripusat tersebut. Berbagai upaya dilakukan agar program-program pendidikan dari setiap pusat pendidikan tersebut salaing mendukung dan memperkuat antar satu dengan lainnya. Di lingkungan keluarga telah diupayakan berbagai hal (perbaikan gizi, permainan edukatif, dan sebagainya) yang dapat menjadi landasan pengembangan selanjutnya di sekolah dan masyarakat. Di lingkungan sekolah diupayakan berbagai hal yang lebih mendekatkan sekolah dengan orang tua siswa (organisasi orang tua siswa, kunjungan rumah oleh personel sekolah, dan sebagainya.
Selanjutnya, sekolah juga mengupayakan agar programnya berkaitan erat dengan masyarakat di sekitarnya (siswa ke masyarakat, narasumber dari masyarakat de sekolah, dan sebagainya). Akhirnya lingkungan masyarakat mengusahakan berbagai kegiatan/program yang menunjang/melengkaoi program keluarga dan sekolah. Dengan kontribusi tripusat pendidikan yang salaing memperkuat dan saling melengkapi itu akan memberi peluang mewujudkan sumber daya manusia terdidik yang mutu.
Salah satu masalah yang sering dibicarakan ialah sekolah sebaga produk masyarakat modern sering membawa dampak negatif karena secara terselubung menghantar generasi terdidik ke kota-kota besar. Seperti diketahui, di lokasi sekolah itu adalah makin tinggi jenjang sekolah itu makin dekat ke kota besar, sehingga perguruan tinggi pada ummnya di ibu kota provinsi. Hal itu membawa dampak negatif yakni terpusatnya tenaga terdidik di daerah perkotaan, dan hanya sedikit yang kembali ke daerah pedesaan.
Program-program kuliah kerja nyat (KKN), pengarahan tenaga sarjana sukarela ke pedesaan, dan sebagainya belum berhasil mengatasi persoalan itu. Oleh karena itu terdapat berbagai pendapat yang mengarahkan pada perbaikan program persekolahan, khususnya kurikulum, agar lebih diorientasikan pada kebutuhan daerah yang bersangkutan.
Dalam Petunjuk Muatan Lokal Kurikulum SD (Lampiran Kep. Men. Dikbud No. 0412/U1987) dikemukakan beberapa tujuan yang lebih rinci dari muatan lokal tersebut yang dapat dikategorikan dalam dua kelompok, sebagai berikut:
1.        Tujuan-tujuan yang segera dapat dicapai, yakni:
a.         Bahan pengajaran lebih mudah deserap oleh murid.
b.        Sumber belajar di daerah dapat lebih dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan.
c.         Murid dapat menerapkan pengetahuan untuk memecahkan masalah yang ditemukan di sekitarnya.
d.        Murid lebih mengenal kindisi alam, lingkungan sosial dan lingkungan bukdaya yang terdapat di daerahnya.
2.        Tujuan-tujuan yang memerlukan waktu yang relatif lama untuk mencapainya, yakni:
a.         Murid dapat meningkatkan pengeahuan mengenai daerahnya.
b.        Murid diharap dapat menolong orang tuanya dan menolong dirinya sendiri dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya.
c.         Murid menjadi akrab dengan lingkungannya dan terhindar dari keterasingan terhadap lingkungannya sendiri.
Muatan lokal kurikulum SD tersebut seyogianya makin diperluas/ditingkatkan, agar dapat terlaksana dengan semestinya. Berdasarkan tujuan muatan lokal, perluasan dan peningkatan muatan lokal dilkukan dengan memperhatikan:
1.        GBPP yang berlaku.
2.        Sumber daya yang tersedia.
3.        Kekhasan lingkungan (alam, sosial, dan budaya) dan kebutuhan daerah.
4.        Mobiltas murid.
5.        Perkembangan dan kemampuan murid (Kep. Men. Dikbud No. 0412/U/1987 Pasal 6).
Dengan demikian, pendidikan akan mampu melaksanakan secara serentak fungsi pelestarian kebudayaan dan fungsi pengembangan dari kebudayaan yang diembannya itu. Dan seiring dengan tiu, sekolah sebagai pusat pendidikan akan lebih dekat dengan pusat-pusat leinnya yakni keluarga dan masyarakat. Dengan demikian, tripusat pendidikan itu diharapkan dapat menunikan tugasnya untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya dan membangun seluruh masyarakat Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar